Monday, March 9, 2009

Proses Terjadinya El Nino

7 komentar












(Sumber : http://www.bom.gov.au/)

El Nino berasal dari bahasa Spanyol yang berarti “anak lelaki”. Sejarahnya, pada abad ke-19 nelayan Peru menyadari terjadinya kondisi menghangatnya suhu lautan yang tidak biasa di wilayah pantai Amerika Selatan, dekat Ekuador dan meluas hingga perairan Peru. Hal ini terjadi di sekitar musim Natal pada setiap tahun. Pada tahun-tahun normal, air laut dalam yang bersuhu rendah dan kaya akan nutrisi bergerak naik ke permukaan di wilayah dekat pantai. Kondisi ini dikenal dengan upwelling. Upwelling ini menyebabkan daerah tersebut sebagai tempat berkumpulnya jutaan plankton dan ikan. Ketika terjadi El Nino upwelling jadi melemah, air hangat dengan kandungan nutrisi yang rendah menyebar di sepanjang pantai sehingga panen para nelayan berkurang.
Gilbart Walker yang mengemukaan tentang El Nino dan sekarang dikenal dengan Sirkulasi Walker yaitu sirkulasi angin Timur-Barat di atas Perairan Pasifik Tropis. Sirkulasi ini timbul karena perbedaan temperatur di atas perairan yang luas pada daerah tersebut.
  • Perairan sepanjang pantai China dan Jepang, atau Carolina Utara dan Virginia, lebih hangat dibandingkan dengan perairan sepanjang pantai Portugal dan California. Sedangkan perairan di sekitar wilayah Indonesia lebih hangat daripada perairan di sekitar Peru, Chile dan Ekuador.
  • Perbedaan temperatur lautan di arah Timur – Barat ini menyebabkan perbedaan tekanan udara permukaan di antara tempat – tempat tersebut.
  • Udara bergerak naik di wilayah lautan yang lebih hangat dan bergerak turun di di wilayah lautan yang lebih dingin. Dan itu menyebabkan aliran udara di lapisan permukaan bergerak dari Timur ke Barat. Inilah yang kemudian disebut dengan angin Pasat Timuran.
2. Kondisi Normal
Pada tahun-tahun normal, Suhu Muka Laut (SST) di sebelah Utara dan Timur Laut Australia ≥28°C sedangkan SST di Samudra Pasifik sekitar Amerika Selatan ±20°C (SST di Pasifik Barat 8° - 10°C lebih hangat dibandingkan dengan Pasifik Timur).



































(Sumber: http://winds.jpl.nasa.gov/images/winds_over_ocean2.gif)
Pada kondisi netral :
  • Angin di wilayah Samudra Pasifik di sekitar ekuator ( Angin Pasat Timuran) dan air laut di bawahnya, mengalir dari Timur ke Barat. Arah aliran ini sedikit berbelok ke Utara pada Bumi Belahan Utara dan ke Selatan pada Bumi Belahan Selatan.
  • Daerah yang berpotensi tumbuh awan-awan hujan adalah di Samudra Pasifik Barat, wilayah Indonesia dan Australia Utara
3. Kondisi El Nino
Sebaran awan hujan sangat sedikit di wilayah Indonesia

Pada tahun El Nino jumlah air laut bersuhu rendah yang mengalir di sepanjang Pantai Selatan Amerika dan Pasifik Timur berkurang atau bahkan menghilang sama sekali. Wilayah Pasifik Timur dan Tengah menjadi sehangat Pasifik Barat.







Ketika terjadi El Nino :

  • Angin Pasat Timuran melemah, artinya angin berbalik arah ke Barat dan mendorong wilayah potensi hujan ke Barat. Hal ini menyebabkan perubahan pola cuaca. Daerah potensi hujan meliputi wilayah Perairan Pasifik Tengah dan Timur dan Amerika Tengah.









Intensitas El Nino

Masing-masing kejadian El Nino adalah unik dalam hal kekuatannya sebagaimana dampaknya pada pola turunnya hujan maupun panjang durasinya. Berdasar intensitasnya El Nino dikategorikan sebagai :
  • El Nino Lemah (Weak El Nino), jika penyimpangan suhu muka laut di Pasifik ekuator +0.5º C s/d +1,0º C dan berlangsung minimal selama 3 bulan berturut-turut.
  • El Nino sedang (Moderate El Nino), jika penyimpangan suhu muka laut di Pasifik ekuator +1,1º C s/d 1,5º C dan berlangsung minimal selama 3 bulan berturut-turut.
  • El Nino kuat(Strong El Nino), jika penyimpangan suhu muka laut di Pasifik ekuator >1,5º C dan berlangsung minimal selama 3 bulan berturut-turut.

Read Full Post...

Pengertian El Nino

0 komentar














(Sumber : http://www.acmecompany.com/)

El Nino adalah fenomena alam dan bukan badai, secara ilmiah diartikan dengan meningkatnya suhu muka laut di sekitar Pasifik Tengah dan Timur sepanjang ekuator dari nilai rata-ratanya dan secara fisik El Nino tidak dapat dilihat.

Read Full Post...

Sunday, March 8, 2009

Dampak Pemanasan Global Mengerikan

0 komentar

Pembatan hutan untuk digunakan sebagai lahan tambang batu-bara dan akan menjadi danau setelah tidak ditambang lagi di Kutai Kartanegara. Kalimantan Timur. Para pemimpin dari sejumlah negara akan bertemu di Bali membahas Global Warming

VALENCIA, SENIN - Pemanasan global merupakan sesuatu yang tak terbantahkan lagi dan dapat menimbulkan dampak sangat mengerikan. Demikian salah satu pernyataan dalam laporan terakhir Panel PBB untuk Perubahan Iklim atau United Nations Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) yang diumumkan di Valencia, Sabtu.

Sekretaris Jendral PBB Ban Ki Moon menantang pemerintah negara-negara di seluruh dunia untuk melakukan aksi nyata mengatasi ancaman tersebut. Ia mengajak para pengambil kebijakan untuk merespon temuan ini dalam konferensi perubahan iklim di Bali.

"Sangat mendesak, usaha global harus dilakukan," ujar Ban Ki-Moon, Sekretaris Jendral PBB. Ia berharap para pengambil kebijakan dari seluruh dunia dapat merespon temuan ini dalam konferensi perubahan iklim yang akan digelar di Bali.

Mengerikan
Laporan tersebut menyebut manusia sebagai biang utama pemanasan global. Emisi gas rumah kaca mengalami kenaikan 70 persen antara 1970 hingga 2004. Konsentrasi gas karbondioksida di atmosfer jauh lebih tinggi dari kandungan alaminya dalam 650 ribu tahun terakhir.

Rata-rata temperatur global telah naik 1,3 derajat Fahrenheit (setara 0,72 derat Celcius) dalam 100 tahun terakhir. Muka air laut mengalami kenaikan rata-rata 0,175 centimeter setiap tahun sejak 1961.

Sekitar 20 hingga 30 persen spesies tumbuh-tumbuhan dan hewan berisiko punah jika temperatur naik 2,7 derajat Fahrenheit (setara 1,5 derajat Celcius). Jika kenaikan temperatur mencapai 3 derajat Celcius, 40 hingga 70 persen spesies mungkin musnah.

Meski negara-negara miskin yang akan merasakan dampak sangat buruk, perubahan iklim juga melanda negara maju. Pada 2020, 75 juta hingga 250 juta penduduk Afrika akan kekurangan sumber air, penduduk kota-kota besar di Asia akan berisiko terlanda banjir dan rob. Di Eropa, kepuanahan spesies akan ekstensif. sementara di Amerika Utara, gelombang panas makin lama dan menyengat sehingga perebutan sumber air akan semakin tinggi.

Kondisi cuaca ektrim akan menjadi peristiwa rutin. Badai tropis akan lebih sering terjadi dan semakin besar intensitasnya. Gelombang panas dan hujan lebat akan melanda area yang lebih luas. Risiko terjadinya kebakaran hutan dan penyebaran penyakit meningkat.

Sementara itu, kekeringan akan menurunkan produktivitas lahan dan kualitas air. Kenaikan muka air laut akan memicu banjir lebih luas, mengasinkan air tawar, dan menggerus kawasan pesisir.
(Kompas Cybermedia)

Read Full Post...

Penghentian Penggunaan Batubara

0 komentar

Saniah (55thn) warga masyarakat melakukan pemeriksaan kesehatan yang di lakukan diperumahan Griya Kencana Karang kandri, Cilacap Jawa tengah. Pada survey september 2008,90% responden yang tinggal di sekitar lokasi PLTU menderita penyakit infeksi saluran pernapasan akut terutama pada anak-anak dan yang berusia lanjut.

Tuntut Penghentian Penggunaan Batubara di Indonesia
Koalisi anti-batubara mendesak pemerintah untuk menghentikan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) bertenaga batubara.

Cilacap, Indonesia — Masyarakat Cilacap yang tergabung dalam KAM (Komite Aspirasi Masyarakat) bersama dengan Koalisi Anti-Batubara(1) mendesak Pemerintah untuk menghentikan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) bertenaga batubara karena dampak-dampak buruknya yang melebihi nilai tambah yang diperoleh baik untuk masyarakat sekitar dan untuk iklim global.

Masyarakat sekitar PLTU Cilacap yang dirugikan dengan hilangnya mata pencaharian seperti tak dapat digarapnya sawah sekitar lokasi PLTU dan menurunnya hasil tangkapan ikan menuntut PLTU agar segera ditutup.

Selama ini usaha negosiasi kompensasi bagi kerusakan yang ditimbulkan operasi PLTU di tiga desa dan perumahan Griya Kencana Permai tidak membuahkan hasil. masyarakat telah menderita banyak sekali kerusakan.

Pada 11 Februari 2009, Koalisi Anti-Batubara bersama masyarakat sekitar lokasi PLTU menyelenggarakan kegiatan "Kenduri Masyarakat untuk Energi Bersih". Kegiatan yang berlangsung selama dua hari ini dimulai dengan layanan kesehatan gratis bagi warga sekitar, pemutaran film dan diskusi.

PLTU Cilacap mulai beroperasi pada tahun 2006 dengan kapasitas 600 Megawatt yang langsung memasok jaringan listrik Jawa-Bali. Anak-anak yang lahir setelah PLTU beroperasi banyak yang menderita penyakit pernafasan berkepanjangan dan pertumbuhan badan yang dibawah rata-rata normal anak seusia mereka.

Survey Greenpeace pada bulan September 2008 lalu (2) mendapati hampir 90 persen responden yang tinggal di sekitar lokasi PLTU menderita penyakit infeksi saluran pernapasan akut terutama pada anak-anak dan yang berusia lanjut.

Pemerintah Indonesia saat ini berencana untuk mengurangi penggunaan bahanbakar minyak menjadi batubara dan gas. Rencana tersebut juga akan mengembalikan rencana pemerintah untuk membangun PLTU bertenaga batubara berkapasitas 10.000 megawatt pada tahun 2009 atau 2010. Pemerintah juga telah menetapkan target konsumsi batubara menjadi lebih dari 33%. (3)

Koalisi Anti-Batubara mendesak pemerintah untuk menunjukkan kemauan politik untuk mengembangkan energi terbarukan untuk memenuhi kebutuhan energi dan listrik nasional.
Batubara sebagai sumber energi yang terkotor dan merupakan penyumbang utama emisi karbondioksida ke atmosfer, bertanggung jawab terhadap laju pemanasan global dan bencana iklim yang sudah memakan korban jiwa 150.000 setiap tahunnya.

Pemerintah harus segera menunjukan kemauan politik mengembangkan sumber-sumber energi bersih dan terbarukan yang berlimpah di negeri ini.

http://Greenpeace.urg

Read Full Post...

ASEAN Harus Segera Bertindak

0 komentar

March 01, 2009 Cha-am Thailand
Aktivis Greenpeace melakukan aksi teatrikal di lokasi pertemuan para pemimpin ASEAN, dengan mengenakan topeng berwajah para pemimpin ASEAN dan kostum orangutan. Para aktivis menirukan para pemimpin ASEAN yang berjabat tangan, menyetujui untuk penyelamatkan hutan dan mecegah perubahan iklim – yang lalu di sambut sukacita oleh para orangutan.

Melindungi hutan dapat mencegah perubahan iklim - ASEAN harus segera bertindak
.
Cha-am, Thailand — Greenpeace mengkritik para pemimpin ASEAN yang bertemu di Thailand karena tidak segera mengambil tindakan untuk melindungi 283 juta hektar hutan di wilayah ASEAN dan masyarakat yang bergantung padanya serta kekayaan keanekaragaman hayati yang saat ini terancam keberadaannya. Deforestasi pesat dan kebablasan mengakibatkan tingginya emisi gas rumahkaca yang menjadi salah satu penyebab perubahaan iklim.
Aktivis Greenpeace melakukan aksi teatrikal di lokasi pertemuan para pemimpin ASEAN, dengan mengenakan topeng berwajah para pemimpin ASEAN dan kostum orangutan. Para aktivis menirukan para pemimpin ASEAN yang berjabat tangan, menyetujui untuk penyelamatkan hutan dan mecegah perubahan iklim – yang lalu di sambut sukacita oleh para orangutan

Kawasan ASEAN melingkupi 16% dari total tutupan hutan tropis dunia. Tetapi laju deforestasi di wilayah ini merupakan salah satu yang tertinggi pada tingkat sekitar 3,1 juta hektar per tahun. Indonesia, negara terbesar di ASEAN, tercatat di buku rekor dunia Guinness sebagai negara dengan laju deforestasi tertinggi di dunia.

Greenpeace menuntut para pemimpin ASEAN untuk segera menyatakan moratorium deforestasi dan menyetujui “zero deforestation” atau laju deforestasi nol di ASEAN pada tahun 2020

Read Full Post...
 

Boru Silitonga Blog | Copyright 2009 Tüm Hakları Saklıdır | Blogger Template by GoogleBoy ve anakafa | Sponsored by Noow!